Friday, January 13, 2012

Di RumahMU - Makkah (Berkunjung dan 'Dikunjungi' bag-2

Di RumahMU - Makkah (Berkunjung dan 'Dikunjungi' bag-2)

by Widya Madjid on Saturday, April 23, 2011 at 8:40am
   Makkah, 23 Maret 2011

Assalamualaykum… Shabaahal Khaair…. Yaa Syabaab.. Kayfa haalukum al-yaum?... :-)

Ihram…

This is the time,,, my ‘journey’ is about to begin… bisik saya dalam hati sambil merapihkan kerudung. Setelah mandi bersih sesuai sunnah Rasulullah. Hakekatnya mandi adalah untuk membersihkan diri dari kotoran lahir . Saya juga berniat kuat untuk membersihkan lahir bathin saya dari kotoran hati, pikiran, ucapan dan perbuatan. Amiin, semoga saya bisa.

Ihram, Thawaf, Sai, Tahalul… itu rukun Umrah. Tapi seberapa dalam saya memahami makna ini semua yang akan saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari nanti sebagai seorang umatNya? Sebagai seorang ibu, istri, anak, sahabat?... disini saya ingin berbagi. *Maklumi keterbatasan ilmu saya ya ;)*

Dalam bus menuju Bir Ali, Ustadz Budi Prayitno selalu mengisi waktu dengan tausyah ringan tapi dalam maknanya. Tentang sejarah islam, tentang arti kita sebagai manusia dimata Allah, tentang kisah-kisah dari sesama saudara kita yang bisa kita ambil pelajaran. Dan akhirnya bertambah lagi ilmu kami. Jazakumullah Khairan Katsiran Pak Ustadz..

Perlahan bus meninggalkan Madinah, diikuti dengan perasaan haru, sedih dan sudah merasakan rindu sebelum saya benar-benar meninggalkan Madinah. Hampir sepanjang perjalanan tangan saya selalu menggenggam erat suami, sambil selalu berucap syukur akan nikmat Allah yang satu ini.

Saya kebetulan selalu dapat kursi di bus dibaris kedua dari depan, persis dibelakang Pak Ustadz. Saya tengok kebelakang, satu persatu saya perhatikan jamaah-jamaah, saudara-saudara yang baru saya kenal beberapa hari ini.. Dengan wajah yang sama bahagianya, karena akan berkunjung ke rumahNYA. Semua memakai penutup badan yang sama, ber-ihram. Kita semua melepas atribut duniawi seperti pangkat, jabatan, status, profesi, nama besar.. tidak terlihat disini.

Kita semua sama dimata Allah.. ini makna berbaju ihram. Sungguh kita hanya terdiri dari susunan ruas-ruas tulang yang berbalut daging, yang hanya karena Rahman Rahim Allah-lah kita diberi kehidupan, ditambah sepotong akal (akal dan qalbu-) yang membedakan kita dengan makhluk   lain ciptaan Allah yang bernama hewan. Dimana tubuh ini, jasad ini semua dalam ketetapanNYA dan dalam janjiNYA. Allahu Akbar.

Berbaju ihram pun seperti symbol kalau kita ‘pulang’ nanti, hanya terbungkus kain putih tanpa ada jahitan. Saking  Allah ingin mengingatkan kita akan persiapan ‘amal’ yang akan dipertanyakan kelak di alam barzah. Bukan berapa besar rumah yang kita miliki. Atau pangkat apa terakhir kita didunia sebelum kita mati?.. Hanya amal. That’s it!

Terpejam mata ini, mengingat perjalanan ibadah haji saya belasan tahun yang lalu. Saya tidak ingin perjalanan kali ini sia-sia tanpa membawa ‘oleh-oleh’ hikmah saat pulang nanti. Apa tujuan saya? Apa tujuan kita semua? Tentunya ingin ibadah ini mabrur. Ingin agar kita tidak tergolong dalam kelompok orang-orang yang merugi karena tidak bisa menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin. Tujuan datang kesini untuk ibadah semata untuk mendapatkan RidhoNYA.

Merapat bus memasuki halaman parkir di masjid, di Bir Ali  kami semua melaksanakan sholat sunat ihram 2 rakaat. Selepas itu berangkat lagi menuju Makkah Al Mukaramah. Dan mulailah kami semua berniat umrah dipimpin Ustd.Budi Prayitno.

                                                                    Labbaik Allahumma ‘Umratan
                 Ya Allah, aku datang untuk memenuhi panggilan-MU, untuk melaksanakan ibadah umrah..

Yaa Allah … betul-betul perjalan ini mengasah qolbu saya. Seperti apa nama ALLAH tertanam dihati saya? Air mata selalu keluar saat hati dan bibir berucap namaMU. Saya datang Ya Allah…akhirnya kami datang… Lalu Semua jamaah  melantunkan Talbiyah ..

                                             Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika la Syarikala Labbaik,
                                               Innalhamda, Wanni’mata Laka Walmulka Laa Syarikalak…
                    
                 Aku datang memenuhi panggilanMU Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMU Ya Allah,
                                                    aku penuhi panggilanMU, tidak ada sekutu bagi-MU.
                   Sesungguhnya segala puji, segala nikmat dan segala kekuasaan adalah milikMU semata.
                                                                          Tidak ada sekutu bagiMU…

Setelah check in di hotel dan istirahat sekedarnya, mulai kami dibimbing Ustadz menuju Masjidil Haram… Subhanallah…. Aduuuuh…. Deg-deg-an menjadi-jadi… BIsmillahirrahmanirrahim…

Dan akhirnya Ka’bah ada didepan mata. Suara-suara sesama jamaah bersautan halus saling merintih takjub, berkaca-kaca mata kami, bergetar bibir kami mengagumi RumahMU Ya Allah… Mengagumi magnet seluruh roh muslim dimuka bumi. Lalu Ustdaz Budi mengajak jamaah bersujud syukur dihadapan Ka’bah, mensyukuri nikmatNYA, undanganNYA, ijinNYA karena kami semua bisa ada disini. Dan selanjutnya… mulailah kami melaksanakan rukun yang kedua, 

Thawaf…

Tenang dan pasti ustadz menuntun kami semua melangkahkan kaki, bertasbih, tahmid, tahlil mengagungkan namaNYA dimulai dengan mengecup jauh Ka’bah dengan mengucap “Bismillahi Allahu Akbar”… Bergetar, merinding, dahsyat melihat ratusan umat manusia , mendengar dengungan doa, ratapan permohonan ampun, linangan air mata, semua berputar mengililingi Ka’bah,,, berputar diporos yang sama,,,, selalu sama,,, dan tak akan pernah terputus sejak ribuan tahun yang lalu. Isn’t that amazing??? …. Adakah yang pernah merubah aturan cara berputar? Mengurangi  atau menambah jumlah putaran? Saya yakin tidak ada. Dimana akan kita temukan dimuka bumi ini kejadian seperti ini? Hanya disini.. Di RumahMU Ya Allah… Berbusana sama, meratap, memohon, hanya pada sang Khalik.

Putaran pertama…. Bibir ini memuji asmaMU Ya Allah, mengagumi kekuasaanMU, ke-Maha KayaanMU. Lalu semilir tercium wangi yang entah hanya bisa saya temukan disini..  wangi yang selalu kurindukan. Juga terdengar suara desahan nafas ummat yang menangis karena taubat .. yang malu-malu bahkan terang-terangan mengakui kebodohan… Astaghfirullah Ya Allah… Yang Maha Pengampun, ampuni dosa kami semua…

Dengan berbekal buku doa thawaf dan sai ditangan dan tuntunan doa dari Ustd.Budi, kami berputar mengelilingi Ka’bah… Setelah tuntunan doa selesai tapi satu putaran Ka’bah belum selesai, saya isi dengan doa saya sendiri sambil  memejam mata, mencoba sangat-sangat khusyuk berdoa pada Allah…
Di RumahMU, dengan suami disebelah.. Fabiayyi alaairobbikumatukadziban…

Diputaran berikutnya.. terbayang wajah Umi dan Dato (ayah dan ibu) saya… Ya Allah, berderai deras air mata saya, bahu terguncang hebat, ingin rasanya saat itu bersimpuh di kaki mereka. Tiba-tiba terbayang jelas wajah Umi dan Datoku yang semakin tua. Yang sudah mulai memutih rambut mereka, melemah kekuatan fisik mereka tapi semakin kuat doa-doa mereka untuk saya Ya Allah…

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Malik Ya Kuddus Ya Dzalzalai wal Ikram,  ampuni dosa mereka, sayangi mereka, bahagiakan lahir bathin mereka, sejahterakan jasmani rohani mereka. Sungguh mereka adalah orang tua yang terbaik. Ampuni mereka Ya Rab, jika mereka lalai beribadah saat mereka sibuk mencari nafkah untuk kami, hanya karena ingin melihat kami semua anak-anaknya bahagia. Angkat derajat mereka Ya Rab, perbaiki semua urusan mereka.  Saya mohon di jannahMUlah jadi tempat mereka kelak.. amiin..

Putaran kedua, ketiga dan seterusnya… Dimasing-masing putaran, saya memuji dan memohon ampunan… dan khusyuk berdoa untuk rumah tangga saya, untuk suami tercinta, anak-anak terkasih, ..Ya Allah ,,, aku mencintai mereka karena Allah Ta’ala… Jangan lebihkan cintaku pada mereka melebihi cintaku padaMU Yaa Rabb… Ya Rabb, selamatkan pula bangsa kami, pemimpin-pemimpin negeri kami… Saudara-saudaraku,teman-temanku yang sedang Kau uji dengan kesempitan, lapangkanlah.. Yang sedang Allah uji dengan penyakit, sembuhkanlah... Jangan KAU tinggalkan kami barang sedetikpun Ya Rabb...  Amiiin..

Sendu mata ini merekam Ka’bah disamping kiri.. Apakah Kabah itu? Batu berbentuk kotak, dibungkus kain hitam… Tapi apa maksud ini semua?... Kita bukan diajak untuk mentuhankan Ka’bah itu.. tapi seperti magnet yang sangat kuat, putaran Thawaf ini seperti putaran yang mendekatkan diri kita dengan sang Khalik. Ada janji disitu, janji ingin mendekatkan diri dengan Allah, janji ingin melaksanakan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA.

Ya Allah… jangan tinggalkan kami saat iman ini sedang melemah. Ingatkan kami saat KAU beri nikmat, Peluk kami saat KAU uji kami dengan ‘sentuhan’ ringanMU, sehatkan rohani kami setelah KAU beri aku obat ‘ujian’ yang pahit terasa..  Sungguh kami dalam ketetapanMU, dalam aturanMU. Bimbing kami mengikuti aturanMU Ya Rab.

Sa’i…

Setelah beristirahat sejenak setelah Shalat sunat Thawaf, segelas zamzam saya teguk nikmat.. membasahi kerongkongan yang kering karena habis merengek minta ampun pada Allah. Kami melangkah kearah bukit Shafa.. Ya Allah… Alhamdulillah.. masih KAU ijinkan hamba kesini…

Berdiri para rombongan berbaris , mendengar intruksi dari Ustd.Budi dan dimulailah sa’i… Berjalan dan sedikit berlari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah. Semua jamaah penuh keyakinan, mantap, berjalan beriiringan.

Saya menggandeng seorang teman, yang tidak pernah saya lihat pipinya kering. Selalu basah oleh air mata. Saking disayangnya dia oleh Allah, saking Allah ingin mengangkat derajatnya, Allah uji dia dengan penyakit yang tidak main-main yang diderita oleh putranya… juga ujian sakit pada suaminya, serta jatuh bangun usahanya. Tapi dia memiliki senjata ampuh, which is Doa dan Sedekah Cintanya.. Subhanallah…  Ya Allah, sungguh hanya KAU yang paling mengetahui, umatMU yang mana yang kuat menerima ujian-ujianMU.. Diana Ekarini, selamat ya sayang, kamu sudah jadi orang yang ‘terpilih’… ikhlasmu yang menjadikan semua bernilai ibadah. Barakallahu Fiikum Diana….

Apa sa’I itu? Bukan hanya berjalan bulak balik kita antara dua bukit. Allah dan Rasulullah tidak akan memerintahkan atau mensunnahkan kepada kita sesuatu yang tidak ada artinya. Ini bukan hanya olahraga jalan kaki. Salah besar orang yang menilai ibadah umat islam hanya seperti kegiatan olahraga saja (takbir, ruku, sujud, thawaf, sa’i).. Di sa’I ini ada komitmen kita dengan Allah…

Lagi-lagi janji kita dengan Allah. Bahwa kita berjanji tidak akan putus berikhtiar. Berikhtiar untuk menjadi umatNYA yang lebih baik. Berikhtiar untuk mencari nafkah, Berikhtiar untuk mencapai Ridhonya. Ikhtiar yang keluar dari keyakinan. Keyakinan yang membuahkan sikap . Keyakinan semua umat muslim dimuka bumi akan adanya Allah dan hari akhir, ini yang membuahkan sikap taqwa semua umat akan aturan-aturanNYA. Allahu Akbar….

Tahalul..

Yaa Allah…. Kalau boleh saya lompat-lompat dan teriak.. Bahagia karenaMU . Saat saya pandang suami menggunting rambut dalam Tahalul. Dengan makna membersihkan diri kita, mensucikan diri dari kotoran dan dosa-dosa… Dengan Ridhonya, Insya Allah bersih pula kami dari dosa-dosa..Alhamdulillah… Ya Allah, Ya Robbana, selesai sudah umrah kami. Terima ibadah kami Ya Allah. Ibadah yang masih jauh dari sempurna. Sempurnakanlah dengan keMaha SempurnaanMU … amiiiinnnn

Orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah para tamu Allah. Karena itu, manakala mereka memohon kepada_NYA, niscaya Ia memenuhi permohonan mereka. Dan manakala mereka memohon ampun, niscaya Ia mengampuni mereka. (Hr. Ibn Majah dan Ibn Hibban).

Di Thawaf Wada itu..

Tidak ada yang tidak mengeluarkan air mata. Tidak ada yang tidak memohon kembali. Semua ingin mendapatkan undangan istimewaNYA. Saling berpelukan dan bersalaman sesama jamaah, mohon maaf lahir dan bathin, mohon diterima sebagai keluarga baru. Berjanji akan memanjangkan silaturahmi. Indahnyaaa… Senyum bahagia jelas terpancar dari wajah-wajah yang bersinar. Wajah yang bahagia karena sudah dijamu sang Kekasih.

Ustadz Budi memimpin doa dan bersama-sama mengajak kita kembali lagi ber-janji kepada Allah, di depan pintu Ka’bah. Berjanji tidak akan pernah meninggalkan sholat, akan membaca Al Quran setiap saat, tidak berbohong… (white lies ke anak-anak masih boleh kan pak ?.. hehehe) … dan beliau memimpin doa-doa indah lainnya yang membuat hati ini sangat tersentuh.

Ini moment yang sangat indah, kesempatan emas, lalu lembut tangan saya menarik suami agar mendekat di depan pintu Ka’bah. Berdua kami bermunajat, mengangkat tangan di depan pintu Ka’bah. Saat itu berasa hanya ada kami bertiga. Aku, suamiku dan Allah. Dengan memohon tuntunan Allah, pun dalam berdoa kepadaNYA, saya sampaikan permohonan ampun kami berdua, dan permohonan lainnya, Ya Allah, tumbuhkanlah rasa sayang diantara kami berdua, yang rasa sayang itu hanya datang dariMU. Berikan tatapan sayang kepada kami berdua satu sama lain. Tuntun kami dalam mendidik amanahMU. Jadikan rumah tangga kami surga bagi kami di dunia dan akhirat. Lapangkan hati kami, langkah kami, rejeki kami. Ya Rab, air mata ini berderai karena takutku padaMU, karena pintaku hanya padaMU. Aku berdiri mendampingi suamiku bukan karena takut aku padanya, tapi karena takutku akan aturanMU tentang dia. Ya Rab, ijinkan kami kembali lagi kesini bersama keluarga kami.. Amin.. Dan suamiku, imamku menutup dengan doa selamat. Fabiayyi alaairobbikumatukadziban… Maka nikmat Allah mana lagi yang engkau dustakan…

Tafakur …

Banyak hikmah dibalik perjalanan ini semua. Dengan keterbatasan ilmu saya, dengan kekurangan saya.. saya mencoba mentafakuri semua.

Tanah haram… Haram bagi manusia datang kesini jika tidak memiliki keyakinan akan keIlahiyan.. Haram bagi mereka yang tidak yakin pada Allah dan Rasulullah.  Haram bagi manusia yang datang kemari dengan membawa kesombongan. Bahwa kita harus yakin dibalik setiap denyut nafas kita ada ketetapan Allah disitu.

Ditanah haram ini semua seolah terbuka disini. Akan ditunjukkan kekeliruan kita selama ini. Sering kita dengar cerita teman, saudara akan teguran-teguran instan dari Allah di tanah haram. Sesungguhnya saya meyakini, islam tidak mengenal hukum karma. Tapi Allah menyebutkan di Al Quran bahwa kebaikan sebesar biji zarah pun akan dibalas oleh Allah. Demikian pula sebaliknya.

Disini seolah didekatkan antara sebab dan akibat. Antara hukum dan kenyataan. Antara keyakinan adanya Yang Maha Melihat dan masa bodo kita tentang keberadaanNYA.

Ka’bah itu ibarat rumah. Rumah tempat kita kembali. Kembali dari luar rumah setelah beraktifitas penuh. Belajar, bekerja, beribadah, dengan jutaan masalah diluar sana. Seperti biasa jika kita kembali kerumah kita ingin beristirahat, menemukan rasa nyaman, tentram, terlindung dari panas dan hujan. Seperti itulah Ka’bah. Menenangkan, menyejukkan, tempat ibadah yang mulia. Ah, andai kita bisa setiap saat mengunjungi rumahNYA…

Sejak dari rumah, susunan doa sudah tertata rapi dibenak saya. Buku-buku doa pribadi beberapa saya bawa dan selalu ada di tas setiap saya ke mesjid. But you know what? Tidak ada satupun yang saya sentuh. Bukan karena saya sombong. Justru, saya malah tidak bisa berkata apa-apa saat  saya bisa duduk bermunajat di multazam. Yang ada bukan saya memohon doa, tapi hanya ada rasa malu yang amat sangat. Malu karena saya datang tidak membawa apa-apa. Tidak punya apa-apa. Sangat miskin. Saya datang hanya membawa dosa, keluhan, hina, permohonan, tuntutan… Ya Allah…. Ampuni saya…

Islam itu indah. Rahmatan lil alamin.  Sangat sempurna. Semua penuh makna, selalu ada maksud Allah yang DIA ingin kita semua Iqro dan Tafakuri. Islam itu komitmen. Selalu kuat antara hubungan aku dan DIA, Allah dan manusia. Begitu sempurnanya ajaran ini, sehingga hal kecilpun diatur olehNYA. Bahkan jauh sebelum peradaban manusia semaju sekarang. Islam betul jika kita menjalani komitmen sesuai dengan perintahNYA. Makanya, kita jangan sok tau.

Bahwa kita sering tidak mensyukuri nikmat dari Allah. Dengan mengukur apa yang didapat pada orang lain. Kalau saja kita mau mengukur bukan hanya dari kesenangan yang diperoleh orang lain, tapi mau mengukur diri dengan ujian-ujian yang ditimpakan Allah kepada orang lain, disitulah baru kita memahami makna syukur. Bersyukurlah… agar Allah semakin menambah nikmat kepada kita. Jangan sok tau, jangan mengatur Allah. Memohon dengan doa itu adalah wajib. Tapi saat Allah tidak atau belum mengabulkan doa kita, itulah yang terbaik yang Allah beri buat kita saat ini.

Sekarang... sanggupkah saya , kita menjaga ‘ihram’ saya? Tidak berkata buruk, tidak menyakiti sesama maupun lingkungan, tidak berkelahi, mulut selalu berdzikir mengingatNYA?... Bahwa setelah umrah adalah bukan jaminan kalau kita lebih baik dari orang lain. Tapi kita wajib berikhtiar untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Juga melawan yang ada didiri kita, yaitu nafsu kita sendiri dan mengendalikannya.

Terimakasih pada Allah SWT , yang masih mengijinkan saya yang hina ini bermunajat Di RumahMU .  Terimakasih suamiku… Terimakasih Umi, Dato, Ibu , Bapak, Terima kasih KHALIFAH Tours and Travel dan semua crew serta para muthowif yang siap 24 jam membantu kami. Terimakasih Pak Ustd, Budi Prayitno atas bimbingan, perhatian, kasih sayang dan profesionalitas. Hatur nuhun Diana, sudah membuka mata hati saya dan menjadikan saya lebih bersyukur. Terima kasih teman-teman , saudara-saudara semua. Yakin ya, jika ini ibadah kita yang terakhir, Yakin Allah menerima ibadah kita. Dan jangan pernah berhenti berharap untuk bisa datang kembali lagi dan lagi dan lagi kesini.

Amiin.. AMiin.. Amiin Ya Robbal'alamin Robbana Taqobal Dua'a Ya Rabb...

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh... ~Widya Madjid~

No comments:

Post a Comment

Post a Comment